April 23, 2010

AJARAN AHMADIYAH DALAM PANDANGAN AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

Posted in Uncategorized pada 8:20 am oleh lazuardibirru

Sejarah Faham Ahmadiyah

Faham Ahmadiyah pertama kali muncul di Qadiyan, India (sekarang Pakistan). Faham ini dideklarasikan oleh pendirinya bernama Mirza Ghulam Ahmad 1836-1908 M yang lahir di tengah-tengah kaum Syi’ah Islamiyah di punjab kawasan Pakistan sekarang. Tahun 1890 Mirza Ghulam Ahmad (54 Th) mendakwahkan bahwa ia adalah seorang nabi sesudah nabi Muhammad Saw., atau nabi akhir zaman disamping mengaku Imam Mahdi al Ma’uhud atau titisan nabi Isa as, mujaddid dan juru selamat.

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan ditengah masyarakat penganut faham Syi’ah yang meyakini akan datangnya Imam Mahdi yang ‘adil yang akan membawa keadilan dan kedamaian untuk seluruh umat manusia. Kaum Syi’ah memang berpandangan bahwa kenabian dan kerasulan belum putus, mereka meyakini bahwa imam-imam mereka dianggap masih menerima wahyu dari Tuhan. Mirza Ghulam Ahmad bertindak lebih jauh dia bukan hanya mengaku sebagai Imam Mahdi al ma’uhud namun juga sebagai nabi yang benar-benar mendapat wahyu dari Tuhan.

Karena itu, Mirza Ghulam Ahmad bukan saja ditentang oleh kaum ahlusunnah wal jama’ah di seluruh dunia, tetapi juga oleh ulama-ulama Syi’ah yang berada di pakistan, Iran dan Yaman. Oleh karenanya Mirza Ghulam Ahmad akhirnya juga melawan dan menghantam pula kaum Syi’ah. Sebagaimana termaktub dalam buku-buku karyanya yang mengejek dan mengolok kaum syi’ah serta melecehkan cucu nabi Hasan dan Husen ra.

Ulama-ulama seluruh dunia pada saat itu telah mengeluarkan fatwa bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak lagi dalam lingkungan umat Islam karena dakwaannya sebagai nabi setelah nabi Muhammad Saw. yang terang-terang menentang sebuah ayat dalam al-Qur’an suci yang mengatakan bahwa nabi Muhammad khataminnabiyyin (penutup para nabi).

Berikut ini beberapa ulama di India yang menolak faham ahmadiyah :
– Maulana Muhammad Anwarullah Khan.
– Maulana Abul Hasan Gulam Mustahafa.
– Maulana Azizurrahman seorang mufti universitas Darul Ulum Dionband.

Akan tetapi kerajaan Inggris yang saat itu menguasai India menyokong gerakakan Ahmadiyah ini, karena diantara fatwanya ada yang sangat disukai oleh penjajah Inggris ketika itu, yaitu : jihad dalam Islam bukan dengan senjata, akan tetapi dengan lisan saja. Oleh karenanya fatwa ini sangat disukai oleh Inggris yang tengah menjajah India saat itu.

Di Indonesia sendiri faham ini mulai muncul sesudah perang dunia pertama, sehingga terdapat cabang-cabang gerakan Ahmadiayah di Jakarta, di Medan, di Padang dan lain-lain. Tapi faham ini di Indosneia kurang mendapat tanggapan dari masyarakat karena terus menerus ditentang oleh ulama-ulama Islam, khususnya ulama ahlussunnah wal jamaah.

Beberapa Ajaran Ahmadiyah yang Kontroversial

a. Seorang nabi dan rasul.
Dalam buku “Haqiqatul wahyi” halaman 391 Mirza Ghulam Ahmad berkata :“Bahwasanya Saya Rasul Tuhan kepada seluruh manusia” . ucapan diatas merupakan pengakuan Mirza Ghulam Ahmad yang mendakwakan dirinya adalah seorang nabi dan rasul sesudah nabi muhammad Saw. kemudia dalam buku “Izzatul Auhan” pagina 673, Mirza Ghulam Ahmad berkata :”Sayalah yang dikabarkan Tuhan dengan firman-Nya di dalam al-Qur’an :

واذقال عيسى ابن مريم يا بنى اسرائيل انى رسول الله اليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة ومبشرا برسول يأتى من بعدى إسمه أحمد, فلما جاءهم با لبينات قالوا هذا سحر مبين
Artinya : Dan ketika Isa anak maryam berkata, hai bani Israil! Sesungguhnya aku ini utusan Allah untukmu, membenarkan wahyu sebelum aku, yaitu Taurat dan menyampaikan berita gembira akan kedatangan seorang Rasul kemudian namanya Ahmad, tetapi setelah Rasul itu datang kepada mereka dengan bukti yang nyata, mereka berkata : inilah tukang sihir yang nyata” (As Saf :6)

Dengan jelas Mirza Ghulam Ahmad telah memberikan interpertasi ayat diatas bahwa yang dimaksud dalam lafadz “minba’dii ismuhu Ahmad” adalah Mirza Ghulam Ahmad karena namanya adalah Ahmad. Sementara kelompok Ahlusunnah wal jama’ah berinterpertasi yang dimakdud pada ayat diatas adalah Muhammad Saw., Ahmad adalah nama pemberian Allah Swt.

b. Mirza sebagai al-masih al-mau’hud.
Mirza Ghulam Ahmad selain mendakwakan bahwa dirinya seorang nabi dan Rasul juga mengaku bahwa dirinya adalah Isa yang dijanjikan akan datang, yakni dirinya sendiri.

c. Anak dan khalifahnya Menerima wahyu
Bukan saja Mirza Ghulam Ahmad yang telah mengaku mendapatkan wahyu dari Tuhan anak dan khalifahnya juga mengaku menerima wahyu dari sang khaliq. Dalam sebuah buku “pengantar untuk mempelajari Al Qur’an” jilid III, pagina 76 disebutkan :…pada saat itu Tuhan menurunkan wahyu kepadaku, bahwa Tuhan akan melindungi dan memeliharaku dan memberikanku kemenangan dan akan menghancurkan mereka”. (dikeluarkan Yayasan Wisma Damai Bandung 1968).

d. Menyempurnakan syari’at Islam
Majalah Universitas “Al Azhar” Kairo tertanggal 1 Pebruari 1957 memuat pernyataan keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai penyempurna ajaran Islam yang dibawa Rasul Muhammad Saw. Ia berpandangan Islam sebagai sebuah ajaran belumlah sempurna, karena itu ia diutus untuk menyempurnakannya. Mereka mengibaratkan Rasulululah hilal (bulan sabit) sementara Mirza GA badar (bulan purnama). Sebagaimana tertera dalam bendera Ahmadiyah :-Hilal (bulan sabit) –Badar (bulan purnama)–Menara.

e. Lebih mulya dari Abu Bakar dan nabi-nabi serta pernah bermimpi menjadi Tuhan
Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya “Mi’yarul Akhyar” berkata : “Saya lebih mulia dari Abu Bakar dan dari pada Nabi-nabi”. (Mi’yarul Akhyar hal, 11)
Tentang kesaksiannya bahwa dirinya pernah bermimpi menjadi Tuhan sebagaimana termaktub dalam “Ayinah Kamalat Islam” yang berbunyi :

“Saya mimpi bahwa saya adalah Tuhan, dan meyakini bahwa saya benar-benar Allah, dan terkhotarlah dalam hati saya ketika itu akan memperbaiki dunia ini dengan suatu peraturan baru, akan saya atur dengan undang-undang baru. Artinya saya jadikan langit dan bumi dengan situasi baru”. (Ayinah Kamalat Islam pagina 564-565).

Pandangan Ahlusunnah wal Jama’ah

a) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan Rasul ditolak oleh jumhurul ulama, dan dikatakan sebuah kesesatan yang nyata!. Ahlussunnah wal jama’ah memberikan tafsiran surat As Saf : 6 sebagai berikut : bahwa yang dimaksud pada lafal “Ahmad” di ayat tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin qosoei bin Qilab Alquraisy bukan selainnya! Hal ini diperkuat dengan firman Allah Surat Al Ahzab :40.

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله و خاتم النبيين

Artinya : “Nabi Muhammad itu bukan bapak seorang pun diantara anak laki-laki diantara kamu, tetapi beliau Rasulallah dan nabi penutup. Dan Tuhan Maha Tahu Atas segala sesuatu” (al Ahzab :40)

b) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al Mahdi Al Mau’hud juga ditolak oleh Ahlussunnah wal jama’ah dan kelompok syi’ah, menurut kepercayan Ahlussunnah wal jama’ah bahwa nabi Isa As tidak dapat disalib oleh musuh dan yang disalip adalah orang yang diserupakan dengan nabi Isa As. Dan pengakuan tersebut juga bertentangan dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Sebagai berikut :

عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسام : والذي نفسى بيده ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكما عدلا فيكسر الصليب ويقتل الحنزير ويصنع الحرب ويفيض الدمع حتى لايقبله أحد. (الحديث رواه البخارى)

Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. Berkata, Rasululullah Saw. bersabda :Demi Tuhan yang diriku ditangan-Nya, akan turun Isa ibnu Maryam kepadamu menjadi hakim ‘adil, maka ia memecah salib, membunuh babi, menghentikan peperangan dan melimpahkan harta yang banyak sehingga tak ada lagi yang akan menerimanya. (HR. Bukhori-Sahih Bukhori II hal, 174)

Dari hadits diatas telah jelas bahwa Allah akan menurunkan Isa Ibnu Maryam bukan Mirza GA Ibnu Maryam. Dan juga dijelaskan bahwa Isa akan membunuh sekalian babi dan merusak salib, ia akan menegakkan keadilan dan mensejahterakan umat manusia dalam bentuk melimpahkan harta kekayaannya. Sepanjang sejarah Mirza GA sudahkah melakukan itu?

c) pengakuan Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia dan keturunannya menerima wahyu jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang suci, karena Rasul Muhammad Saw telah menyatakan bahwa nabi dan kenabian sudah tidak ada lagi setelahnya. Karena wahyu hanya Allah turunkan kepada para nabi dan Rasul-Nya saja, maka dengan tidak adanya nabi lagi maka tidak ada wahyu yang disalahgunakan.
d) pernyataan Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia sebagai penyempurna syari’at Islam adalah bertentangan dengan Firman Allah Surat Al Ma’idah : 3 yang artinya :

أليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا
“Hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, telah aku cukupkan nikmatKu bagimu dan Aku telah meridloi Islam sebagai agamamu”.

e) soal pernyataan Mirza GA bahwa ia lebih mulia dari abu Bakar dan pernah bermimpi menjadi Tuhan jelas sebuah kebohongan yang tidak terbantahkan menurut Ahlusunnah wal jama’ah. Karena Ahlusunnah wal jama’ah meyakini bahwa yang mulia disisi Allah setelah Rasulullah Muhammad Saw. adalah para Rasul-rasul ke mudian para nabi-nabi yang lain sesudah itu para malaikat dan selanjutnya baru manusia. Sementara Mirza GA tidak ada pada deretan nabi dan rasul sehingga tidak terbukti pengakuannya tersebut.
Wallu ‘alam bishowab!

Iklan

April 14, 2010

Tanda Benci Untukmu

Posted in Uncategorized pada 2:46 am oleh lazuardibirru

Seringkali kita mendapatkan hadiah dari teman, keluarga, kerabat, pasangan bahkan atasan atau bawahan di kantor pada hari-hari istimewa seperti: Idul Fitri, Ulang Tahun, Kelulusan dan lain sebagainya. Terkadang ada juga hadiah yang mampir ke rumah pada hari yang tidak terduga. Hadiah ini bisa berupa sekardus kue bolu, sekeranjang tahu sumedang, beberapa ikat buah rambutan atau mungkin semangkuk sayur lodeh. Hadiah kapanpun datangnya selalu mendatangkan bahagia karena hadiah adalah tanda cinta.
Islam mengajarkan pemeluknya agar sering-sering bertukar hadiah, sebagaimana hadith nabi yang artinya “Saling berbagi hadiah lah diantara kalian, niscaya kalaian akan saling mencintai” . Ajaran ini benar terbukti khasiatnya. Dengan hadiah yang jauh menjadi dekat, yang sedih menjadi senang dan yang marah pun menjadi sayang.
Bagaimana jadinya jika seseorang memberi hadiah kepada kita berupa sesuatu yang kita benci?. Seorang pemburu pernah mengalami kisah tersebut. Dia mendapatkan hadiah berupa satu box besar penuh berisi tikus dari tetangga samping rumahnya. Mendapatkan hadiah yang sangat menjijikan, si pemburu kaget bukan kepalang. Dia menjadi marah. Ketika kemarahannya sudah sampai ubun-ubun, dia malah terdiam mematung membaca sehelai kertas pesan dari dalam box tikus.
Berikut ini kisah lengkapnya sebelum si pemburu mendapat hadiah satu box tikus
Seorang wanita setengah baya memelihara beberapa ekor kucing di rumahnya. Dia sangat menyayangi kucing-kucingnya karena mereka berjasa menangkapi tikus di kamar dan dapurnya. Suatu hari seekor kucing hilang dari rumahnya. Wanita setengah baya mencari kucingnya yang hilang namun tidak menemukannya.
Hari berganti hari, kucing hilang belum juga ditemukan, malah semua kucing di rumahnya ikut raib tanpa seorang pun mengetahui penyebabnya. Si wanita naik pitam. Dia mencari informasi seputar kehilangan kucing-kucingnya. Desas-desus terdengar bahwa kucingnya mati ditembak pemburu. Setelah wanita setengah baya itu menelusuri sumber informasi ternyata benar adanya kucing-kucingnya mati sebagai sasaran tembak senjata baru si pemburu yang tinggal di samping rumahnya.
Kemarahan si wanita dilampiaskan dengan cara menangkapi sebanyak mungkin tikus yang ada di dalam rumahnya. Berpuluh-puluh tikus berhasil dia tangkap. Semuanya dia masukkan ke dalam sebuah box yang akan dihadiahkan kepada si pemburu. Sebelum mengirim box tikus, wanita tua menulis selembar pesan untuk tetangganya;
Tuan Pemburu yang terhormat
Anda telah membunuh semua kucing saya, padahal mereka adalah penolong saya. Kematian kucing yang tidak berdosa itu menyisakan masalah besar di rumah saya. Berpuluh-puluh tikus hidup bebas, hilir-mudik di dalam rumah. Maka saya tangkapi mereka dan saya berikan kepada tuan sebagai hadiah karena tuan telah membunuh kucing saya.
Jika hadiah yang menyenangkan adalah tanda cinta, maka hadiah yang menjijikan adalah tanda benci. Tanda benci tidak mungkin kita terima jika kita tidak menebarnya. Seperti si pemburu yang membunuh kucing-kucing wanita tua, mendapatkan hadiah benci karena perbuatannya. Semakin banyak cinta kita sebar maka sebanyak itu pula kita mendapatkan hadiahnya. Sebaliknya semakin sering kita menebar bibit benci, maka semakin banyak pula tanda benci menghampiri rumah kita.

April 12, 2010

Time is Money

Posted in Uncategorized pada 4:42 am oleh lazuardibirru

Sudah tidak diragukan lagi Jepang adalah Negara maju dan bangsa Jepang sudah bisa duduk sama rendah-berdiri sama tinggi dengan bangsa kulit putih di Barat sana. Konon katanya kemajuan Jepang itu berkat keuletan dan kedisiplinan mereka. Di antara keuletan dan kedisiplinan berdiri tegak menjulang philosophi bangsa Jepang yang menunjukan betapa mereka menghomati waktu “Time is Money”. Tiga hurup sakti ini mengiang-ngiang di seantero negeri Sakura yang di tahun empat puluhan hancur lebur dibombardir tentara sekutu. Bahkan gema tiga hurup sakti tersebut terdengar ke Negara kepulauan yang dilintasi garis Katulistiwa, Indonesia namanya.
Hampir di setiap forum, baik tingkat nasional maupun regional terkecil, rumah tangga, orang teramat sering mengucapkan mantra sakti “Time is Money”. Singkat kata bangsa Indonesia mempunyai keinginan besar untuk mengikuti jejak langkah sang ‘saudara tua’ yang telah menjadi maju karena menghormati waktu.
Bagaimana kita tidak tergiur dengan kemajuan Jepang bila setiap hari dipertontonkan kemewahannya. Semua jalan raya di Indonesia, hampir pasti di sesaki kendaraan roda dua dan empat made in Japan. Di dalam rumah kita juga produk Jepang terpajang di setiap ruangan dari mulai rice cooker sampai televisi.
Secara pribadi saya sangat senang dengan kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya waktu. Akan tetapi jika waktu kita ibaratkan sebagai uang atau dengan ungkapan lain waktu harus digunakan untuk mendapatkan uang, saya kurang bahkan tidak setuju. Bila kita selalu meng-uangkan waktu maka bukan kebaikan yang kita dapatkan melainkan kerapuhan yang bersemayam.
Time is money bagaikan pisau bermata dua, apabila kita tidak berhati-hati menggunakannya niscaya tangan akan terluka. Di satu sisi mengajarkan kita menghormati waktu dengan menggunakannya sebaik mungkin di sisi lain mendorong kita untuk memuja kehidupan matrealistis.
Waktu adalah uang; jika anda punya uang maka saya bisa mengatur waktu saya untuk anda. Waktu adalah uang; Saya akan datang tepat waktu jika acara tersebut mendatangkan keuntungan financial. Waktu adalah uang; Saya tidak bisa membantu anda jika anda tidak punya uang karena itu hanya menghambur-hamburkan waktu saja. Waktu adalah uang; Saya kurang suka ikut kegiatan social karena tidak memberikan penambahan kekeyaan kepada pribadi saya. Waktu adalah uang; Saya akan menjadi pendampingmu seumur hidup selama kamu punya uang, jika uangmu habis maka jangan salahkan saya bila meninggalkanmu.
Sebagai muslim tentunya hidup matrealistis bukanlah hidup yang dianjurkan Rasulullah SAW. Hidup kita di dunia ini hanya sementara, kita akan menuju alam baka dengan meninggalkan segala milik kita yang berupa materi. Maka waktu bagi kita adalah media untuk memperbanyak amal kebaikan. Waktu bagi kita adalah bank tempat menyimpan perbekalan untuk akhirat.

April 1, 2010

SAYANG BUKAN SEKADAR CINTA

Posted in Uncategorized pada 8:43 am oleh lazuardibirru

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, inilah ayat pertama Ummul Qur’an yang menjadi pembuka turunnya wahyu Allah ke dunia Ar-Rahman Ar-Rahim, dua kata yang memilki satu akar “Rahima” berarti menyayangi.

Ibnu Qayyim menjelaskan gabungan kata Ar-Rahman, Ar-Rahim mengandung makna yang mendalam. Ar-Rahman Menunjukkan pada satu sifat kasih-sayang yang melekat kuat pada Allah SWT. Sedangkan Ar-Rahim menunjukkan keterkaitan sifat itu dengan objeknya.

Allah memilki Al-Asmaul Husna yang tersebar dalam Al-Qur’an dari mulai surat Al-Baqaroh sampai An-Naas. Mengapa zat yang maha suci menempatkan Ar-Rahman Ar-Rahim bersanding dengan namanya di awal kitab suci al-Qur’an?. Tentu tidak semata-mata Allah meletakkannya dengan tanpa maksud, karena Allah tidak mungkin melakukan sesuatu jika hal tersebut tidak mengandung hikmah.

Ar-Rahman Ar-Rahim menjadi pertanda bahwa kasih sayang Allah adalah sumber dari semua sifatNya. Allah maha besar, maha kuasa, maha kuat, kekuatan, kebesaran serta kekuasaanNya tidak semena-mena karena selalu di dasari kasih sayang. Allah maha pengampun, penerima taubat, pemberi rizki, semuanya bersumber dari rasa kasih sayang yang melekat erat dalam dzat Allah.

Kasih itu tidak pernah pilih-pilih, sayang itu tidak pernah bisa terbilang. Ketika kasih berkolaborasi dengan sayang maka yang dihasilkan adalah sifat memberi tanpa tendesi.

Berbeda halnya dengan cinta yang seringkali terkontaminasi karena satu dan lain sebab, kasih sayang selalu hadir dalam bentuk aslinya.

Dalam sebuah tayangan televise ‘Wild Life’, saya masih merekam dalam ingatan adegan seekor cheetah betina yang berburu rusa. Ia keluar dari sarang setelah lama istirahat pasca melahirkan, tuntutan memberi makan untuk anak-anaknya menyeret keempat kaki cheetah kurus tersebut ke padang rumput untuk berburu. Ringkasnya ia berhasil menangkap seekor antelove setelah terlebih dahulu memeras keringat untuk mengejar mangsanya.

Cheetah betina itu menyeret mangsanya kesarang di mana kedua anaknya telah menunggu. sesampainya di sarang, kedua anaknya langsung memburu bangkai antelove, mereka makan sebentar lalu mendadak ribut. Dua kakak-beradik itu saling mencakar, berteriak-teriak memperebutkan isi perut antolove.

Si ibu mulai khawatir dengan sikap kedua anaknya yang bisa mengundang marabahaya. Dan ternyata, kekhawatiran cheetah betina tersebut benar adanya, segerombolan anjing hutan datang menyerbu. Tidak ada pilihan lain baginya selain berlari  menyelamatkan anak-anaknya dari serangan tamu tak diundang.

Apakah setelah peristiwa tersebut si ibu cheetah tidak mau berburu  lagi untuk memberi makanan anak-anaknya? Tidak, dengan lapang dada ia kembali berburu dan terus berburu hingga kedua anaknya mampu mencari mangsanya sendiri

Cheetah betina telah mengajari kita seni menyayangi yang hadir dari kedalaman hati dan tetap terjaga kesuciannya meski balasannya tak sebaik yang di inginkan. Demikian juga sanyang orang tua terhadap anaknya, tak pernah bisa hilang hingga akhir masa. Meski seringkali disalah pahami oleh anaknya, orang tua bertahan menyimpan sayang bagai matahari yang tak henti-hentinya menyinari bumi meski banyak manusia mencaci-maki sinarnya.

Masih ada sayang lain yang tak lekang oleh jaman, sayang seorang guru kepada muridnya. Guru sejati akan tersenyum bahagia ketika muridnya yang selalu tidur selama pelajaran berlangsung, becanda saat ia menulis rangkuman di papan tulis, beralasan tidak tahu waktu ditanya pekerjaan rumah, datang minta penjelaasan pelajaran pada detik-detik akhir menjelang ujian.

Sayang benar-benar bukan sekedar cinta yang bisa hilang pada satu kesempatan sebagai mana sang penyair  legendaris, Kahlil Gibran menggambarkan; seorang wanita dengan wajah merona mendatangi pria dan berkata ”aku mencintaimu”. Si pria diam tanpa ekspresi lalu dengan serta merta si wanita berkata “aku benci kamu”.

Cinta bisa datang dan pergi begitu saja, sekarang kau mencintaiku, esok atau lusa kau sudah membenci. Sungguh benar nasehat nabi Muhammad saw kepada orang-orang yang bercinta ”cintailah kekasihmu sekedarnya, mungkin ia akan menjadi musuhmu esok hari”.

Masihkah kita berbangga dengan cinta jika akan hilang pada waktunya? Masihkah kita berkhidmat pada cinta jika ia selalu meminta? Cinta memang dahsyat; kekuatan yang bisa mencipta, candu abadi yang mampu hilangkan nyawa, bubuk mesiu yang sering kobarkan perang, juga bendera penggagas perdamaian. Meski demikian cinta tetaplah sebuah batang.

Bagaikan pohon, cinta adalah batang yang di atasnya tumbuh ranting-ranting di setiap tepi ranting tubuh dedaunan dan di antara dedaunan berkembang bunga yang kemudian menghadirkan buah. Bisakah sebuah batang berdaun, berbunga, lalu berbuah tanpa akar?

Jawabnya sudah kita ketahui bersama, tapi apakah semua orang tahu apa akar yang bisa menumbuhkan ranting, daun, dan buah?

Akar pohon bernama cinta adalah rahmah, kasih sayang. Kasih sayang selalu ada dalam hati yang paling dalam seperti akar yang tumbuh merambat dalam tanah. Janganlah pernah mengatakan cinta bila sayang belum tertanam karena hanya akan memberikan impian yang tak pernah menjadi kenyataan. Janganlah pernah berikan cinta bila sayang belum menyerap dalam hati karna ia tidak akan bertahan lama semisal batang jagung yang mudah di tumbangkan angin.

Sayang yang tertanam dalam dada lalu tumbuh mengakar di hati akan menjadikan hidup ini hijau menyejukkan, warna-warni mencerahkan, manis membahagiakan seperti kalaborasi daun, bunga dan buah.

“Tak ada kesulitan yang tak dapat dikalahkan oleh kasih yang dalam. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih yang dalam. Tak ada pintu yang tak akan dibukakan oleh kasih yang dalam. Tak ada teluk yang tak mungkin di jembatani oleh kasih yang dalam. Tak ada dinding yang tak dapat di hancurkan oleh kasih yang dalam. tak ada dosa yang tak dapat di tebus oleh kasih yang dalam. Tak perduli……betapa besarnya kesulitan, betapa sirnanya harapan, betapa rumitnya masalah, betapa besarnya kesalahan, kesadaran akan kasih sayang yang dalam dapat menguraikan semuanya. Bila kita mengasihi dengan tulus, kita akan menjadi makhluk yang paling bahagia dan paling kuat di dunia.” (Emmen Fox)

Maret 31, 2010

Pemimpin Terpilih

Posted in Opini pada 10:27 am oleh lazuardibirru

Pemilu bukan hanya milik manusia yang tinggal di negara-negara penganut paham demokrasi. Pemilu juga pernah terjadi di rimba raya. Hutan yang kita anggap sebagai belantara tanpa tuan dan peraturan ternyata juga menyimpan kisah demokrasi.

Alkisah setelah kematian singa raja hutan, penghuni hutan berkumpul di kediaman Singa betina yang baru ditinggal mati pasangannya, Singa betina dalam kesedihan harus merelakan singgasana suaminya diserahkan pada musyawarah binatang. Hal ini terjadi karena anak pertamanya masih belum cukup umur untuk mengemban amanah sebagai raja rimba, penjaga keamanan dan kenyamanan seluruh masyarakat hutan.

Musyawarah pemilihan raja hutanpun di mulai dengan pembicara pertama seekor macan “wahai sekalian penduduk hutan dengarkanlah, aku akan memberitahukan anda semua bahwa aku adalah hewan yang pantas menjadi raja hutan karena diantara semua hewan, akulah yang paling mirip dengan singa yang telah wafat.”

Mendengar ocehan Macan, beruang langsung berdiri “jika macan merasa pantas menjadi raja karena kemiripannya dengan singa, maka aku lebih pantas dari dia. Dari segala segi, aku tidak kalah dari singa, keberanian, kekuatan, dan kebuasan. Bahkan, aku lebih unggul dari singa karena kemampuanku memanjat pohon.”

Suasana menjadi panas dan bertambah panas dengan teriakan hewan-hewan yang mendukung jagoannya, atau mencela jago yang lain. Kemudian Gajah berdiri, dengan perlahan dan nada datar ia berbicara “wahai tuan-tuan sekalian, aku serahkan segala urusanku kepada anda semua. Anda berhak menilai apakah aku yang berbadan besar ini layak menjadi pengganti sang raja rimba?” setelah Gajah duduk, giliran Kuda maju ke depan “kawan-kawan, jangan lupakan kekuatan tenagaku dan keelokan bentuk badanku…………….”. belum selesai Kuda bicara, Srigala memotong pembicaraan “Dan jangan pernah lupa pada Srigala yang banyak akalnya……….”

Monyet yang dari awal pertemuan sudah tidak sabar ingin berbicara akhirnya meloncat ketengah-tengah perkumpulan. Bagaikan seorang pengkhotbah, dia berbicara di hadapan semua masyarakat hutan, “ kalaupun aku harus memilih salah satu diantara kalian semua, niscaya aku tidak mendapatkan seorangpun dari kalian yang kebaikan dan kepintaranku, jika anda semua sepakat memilih saya sebagai raja, niscaya saya akan memberikan kebahagiaan kepada semua penghuni hutan. Saya akan ciptakan kondisi yang aman damai serta tentram. Kesejahteraan yang dalam masa kepemimpinan singa kurang diperhatikan, pada masa kepemimpinan saya kelak akan menjadi prioritas utama. Dan jangan lupakan satu fakta, bahwa diantara seluruh penghuni rimba, saya adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemiripan dengan manusia, dan sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia adalah khalifah Tuhan dimuka bumi”.

Panas mendengar ocehan Monyet, Burung Beo pun buka suara “jika anda merasa mirip dengan manusia hanya karena gerak-gerik anda yang lucu dan muka anda yang jelek itu, maka saya merasa lebih bangga karena saya bisa bicara seperti manusia”. Monyet langsung menjawab “kamu cuma bisa ngomong meniru suara manusia, tapi tidak tahu arti perkataanmu” maka seluruh peserta musyawarah pun tertawa mendengar perdebatan si Monyet dan Burung Beo yang membawa-bawa manusia di perkumpulan binatang.

Setelah melalui tahap yang sangat melelahkan dan tentunya memakan banyak waktu. Akhirnya Gajah terpilih secara aklamasi. Mayoritas penduduk hutan memilih Gajah karena kekuatan dan ketawadhuannya.

Demikianlah kisah pemilu di rimba raya, mereka memilih pemimpin karena kwalitas pribadinya bukan memilih karena kwalitas pidatonya. Andaikan penghuni hutan adalah makhluk yang mudah terbuai oleh janji-janji manis yang diucapkan pada masa kampanye, niscaya yang menjadi raja adalah Monyet.

Pemimpin yang dipilih melalui mekanisme musyawarah atau yang lebih ngetrend lagi melalui general election adalah pemimipin yang legitimate.pemimpin terpilih bukan hanya pemimpin bagi orang yang memilihnya saja, tapi pemimpin bagi semua termasuk bagi orang yang membencinya. Seluruh warga masyarakat, suka atau tidak suka harus mengakui pemimpin terpilih sebagai pemimpinnya. Demikian juga pemimpin terpilih harus menganggap semua masyarakat suka atau tidak suka sebagai rakyatnya. Pemimpin terpilih tidak boleh pilih-pilih, segala kebijakan dan peraturan harus disama adilkan  bagi kelompok yang mendukung atau kelompok yang dulu menolak.

Indonesia telah melaksanakan pemilihan presiden yang hasil akhirnya menetapkan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin terpilih. Memilih atau tidak memilih, sebagai warga negara Indonesia kita wajib mendukung kepemimpinan beliau. Hitam putih Indonesia selama periode 2009-2014 terletak ditangan pemimpin terpilih. Pemimpin terpilih tidak bisa berjalan sendiri menarik gerbong pemerintahan. Beliau membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Dukungan bukan hanya berwujud pujian, adakalanya dukungan bisa berbentuk saran yang membangun atau juga kritikan dan pada saat-saat tertentu dukungan bisa berupa kecaman, selama kecaman atau kritikan tersebut bertujuan untuk kebaikan bersama.

Mari kita dukung pemimpin terpilih dengan memberikan apresiasi ketika beliau membuat prestasi, saran ketika beliau akan mengambil sebuah kebijakan, kritikan bila kebijakannya tidak pro rakyat banyak, dan jika perlu kecaman bila beliau menyalah gunakan wewenang untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Maret 25, 2010

Nikah Siri dan Kemiskinan

Posted in Uncategorized pada 2:39 am oleh lazuardibirru

Pemerintah telah menyulut api kontoversi dengan rencana penerbitan peraturan perundang-undangan yang akan menjerat pelaku nikah siri. Rancangan Undang-Undang Hukum Materil Peradilan Agama (HMPA) yang akan melengkapi Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974, memuat ketentuan pidana (Pasal 143-153), khususnya terkait perkawinan siri, perkawinan mut’ah, perkawinan kedua, ketiga, dan keempat, serta perceraian yang tanpa dilakukan di muka pengadilan, melakukan perzinahan dan menolak bertanggung jawab, serta menikahkan atau menjadi wali nikah, padahal sebetulnya tidak berhak. Ancaman hukuman untuk tindak pidana itu bervariasi, mulai dari 6 bulan hingga 3 tahun dan denda mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 12 juta.

Rencana pemidanaan pelaku nikah siri kontan mendapat penolakan dari berbagai elemen Islam. Tidak kurang pengurus Nahdlatul Ulama, Majlis Ulama Indonesia sampai Roma Irama penyanyi dangdut yang juga pelaku nikah siri mengecam rencana tersebut. Bahkan Bang Roma menyatakan pembuat draf rancangan undang-undang yang akan memidanakan pelaku nikah siri sebagai golongan atheis.

Terlepas dari pro dan kontra dan tanpa berpihak pada salah satu kubu, mari kita telaah terlebih dahulu akar masalah dari nikah siri. Islam tidak mengenal nikah siri. Nikah siri hanya istilah dalam peraturan pernikahan di Indonesia. Nikah siri adalah pernikahan yang tidak dicatat oleh Kantor Urusan Agama yang tugasnya menerbitkan buku nikah.

Syahkah nikah siri menurut Islam? Selama pernikahan dilaksanakan dengan memenuhi syarat-syaratnya yang ditentukan oleh fiqh maka pernikahan itu syah secara agama. Syarat yang harus dipenuhi dalam suatu pernikahaan adalah adanya wali yang menikahkan, dua orang saksi yang adil dan ijab-qabul. Jadi menurut agama pelaku nikah siri bukan seorang penjahat selama dia memenuhi persyaratan di atas.

Adapun pemerintah yang berniat menjadikan pelaku nikah siri sebagai penjahat belum boleh dikatakan sebagai pelaku kejahatan. Kita harus berbaik sangka terhadap pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama yang sudah mau bekerja untuk kepentingan masyarakat. Pemerintah dalam beberapa kesempatan selalu menyatakan bahwa tujuan pemberlakuan undang-undang yang mengurus masalah nikah siri adalah untuk kemaslahatan umat.

Belajar dari pengalaman, pelaku nikah siri sering kali mendapatkan masalah. Wanita yang dinikahi secara siri tidak mendapat kepastian hukum karena tidak memiliki surat nikah sehingga ketika terjadi perceraian dia tidak bisa menuntut harta gono-gini dan juga tidak bisa menuntut hak perwalian anak. Jika pun anak diserahkan kepada pihak wanita, dia tidak bisa meminta nafkah wajib untuk anaknya kepada mantan suami.

Nikah siri juga dapat merugikan anak. Anak hasil pernikahan secara siri tidak bisa membuat akte kelahiran karena salah satu syarat pembuatan akte adalah surat nikah. Anak dari perkawinan siri tidak diakui administrasi negara. Hal ini dapat menyulitkan si anak di masa depan terutama yang berkaitan dengan pendidikannya.

Departemen Agama sudah berlaku baik dengan cara mencari solusi bagi persoalan yang ditimbulkan oleh nikah siri. Secara pribadi saya memberi apresiasi dan mendukung secara moril ijtihad baik pemerintah. Namun sebagai seorang muslim saya juga tidak bisa berdiam diri menerima rancangan undang-undang yang akan menpidanakan pelaku nikah siri. Vonis penjahat kepada seorang muslim yang telah melakukan sunah rasul harus ditentang.

Fenomena nikah siri tidak bisa kita pukul rata untuk semua kasus. Banyak motif dibalik pernikahan yang tidak dicatat oleh Kantor Urusan Agama. Di desa saya dan mungkin juga di desa-desa lain di seluruh Indonesia banyak penduduk yang melakukan pernikahan tanpa mendatangi atau mendatangkan pengurus KUA karena faktor mahalnya biaya administrasi untuk sebuah pernikahan. Bagi penduduk yang sudah susah mencari sesuap nasi, ratusan ribu biaya pernikahan secara negara merupakan sesuatu yang teramat berat. Mereka memilih tidak membuat akta nikah dari pada harus berhutang.

Jika orang-orang miskin yang melakukan pernikahan siri dijatuhi sanksi berupa kurungan dan denda maka seluruh dosa kedzoliman akan ditanggung oleh pembuat rancangan undang-undang HMPA.

Nikah siri bagai gunung es yang nampak kecil di puncak namun memiliki kedalaman yang sangat. Jika pemerintah hanya fokus terhadap akibat dari nikah siri tanpa menelusuri sebab terjadinya nikah siri maka bukannya solusi yang kita dapatkan melainkan kesemrautan yang bertambah. Lebih baik pemerintah menulis undang-undang yang melarang nikah siri dengan sanksi akan dinikahkan secara resmi. Pemerintah boleh mendata penduduk yang telah menikah tapi tidak memiliki akte nikah. Mereka bisa dikumpulkan untuk dinikah ulangkan dan diberi buku nikah secara gratis. Selain itu pemerintah juga harus menerbitkan peraturan pembiayaan pembuatan surat nikah dan biaya administrasi pernikahan. Para petugas pencatatan pernikahan harus mengikuti peraturan tersebut. Dan jika mereka melanggar, pemerintah sudah mempersiapkan sanksi yang setimpal, sehingga tidak akan ada lagi mark up dalam administrasi pernikahan. Saya yakin jika hal ini yang dilakukan semua komponen masyarakat tidak ada yang menolak. Semuanya akan mendukung kebijakan yang sangat pro rakyat terutama rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan

Maret 24, 2010

Mencari Kejujuran, Berharap Ketulusan

Posted in Uncategorized pada 2:30 am oleh lazuardibirru

Dikisahkan bahwa pada sebuah pesta besar yang diadakan oleh seorang kaya raya, ahli masak yang sedang sibuk di dapur mendadak bingung. Mereka kehilangan dua puluh ekor ikan emas besar yang akan dijadikan hidangan utama. Kejadian ini pun diketahui oleh sang juragan. Setelah menggerutu dan sedikit memarahi juru masak atas kelalaian mereka menjaga ikan emas dari tangan usil pencuri, juragan kaya itu mengutus pembantunya pergi ke pasar untuk membeli ikan lagi.

Setelah beberapa lama menunggu, pembantu datang bersama seorang laki-laki yang membawa beberapa ekor ikan emas yang nampak lebih besar dari ikan yang hilang. Juragan pun tersenyum senang, dipersilahkanya laki-laki itu duduk.

Berapa harga semua ikan yang kamu bawa ini ?”

Ikan-ikan ini telah membuat kesusahan dalam hidup saya, oleh karena itu saya tidak akan melepaskannya dengan harga yang murah”

Boleh, berapa rupiah yang engkau inginkan untuk ikan-ikanmu ini?”

Saya hanya minta seratus kali cambukan sebagai harga semua ikan-ikan ini”

Juragan kaya terperanjat mendengar permintaan aneh laki-laki pembawa ikan tersebut. Dia menanyakan mengapa harus dibayar dengan seratus kali cambukan, namun si laki-laki tetap bersikeras menginginkan bayaran seratus kali cambukan. Karena tidak ingin berpanjang urusan, si juragan menyanggupi permintaan si tukang ikan yang aneh itu.

Satu demi satu cambukan mendarat di pungung telanjang si tukang ikan. Ia hanya menggigit bajunya setiap kali mendapatkan cambukan. Ketika cambukan masuk hitungan lima puluh, si tukang ikan segera berdiri

Cukup sudah bagianku! Aku punya teman yang berhak mendapatkan setengah bagian dari harga ikan itu.”

Siapa temanmu itu, wahai tukang ikan?” timpal sang juragan kaya raya

Temanku adalah penjaga gerbang rumah tuan yang meminta setengah bagian dari harga ikanku sebagai imbalan memperbolehkanku memasuki tempat yang istimewa ini”

Maka penjaga gerbang pun dipanggil untuk mendapatkan bagiannya. Lima puluh cambukan mendarat dipunggungnya. Sebagai tambahan atas kecurangannya, jurangan kaya memecat dia dari pekerjaannya. Sedangkan si tukang ikan cerdik mendapatkan harga setimpal dari ikan dan kepintarannya. Dia pulang membawa uang dua kali lipat, hasil penjualan ikan dan hadiah atas kepintarannya membuka kedok si penjaga gerbang.

Di zaman sekarang ini, dimana segala sesuatu selalu diukur dengan uang, sungguh sangat sulit mendapatkan orang-orang yang tulus. Setiap kebaikan mesti diakhiri dengan komisi; lowongan pekerjaan sudah dijadikan barang objekan oleh oknum officer, hanya yang bisa membayar lebih tinggi bisa mengisi kursi. Begitu juga dengan seleksi pegawai negeri, ada komisi anda bisa jadi, tanpa komisi jangan harap bisa jadi. Ditambah lagi kasus jual-beli kursi di perguruan tinggi negeri.

Contoh yang paling aktual adalah maraknya mafia peradilan. Entah sudah berapa orang hakim, jaksa atau polisi yang masuk bui gara-gara komisi, dan tentunya masih banyak lagi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Kita sebagai rakyat kecil sudah geram mendengar berita televisi atau koran tentang kelicikan para pemburu komisi. Segala macam cara dari mulai yang halus sampai kasar menjurus pada penghilangan nyawa seseorang mereka lakukan hanya untuk memuluskan nafsu materil. Maka tidak heran jika keadilan di negri ini sulit dan tidak pernah bisa ditegakkan.

Kejujuran dan ketulusan adalah dua kata yang sangat asing kita dengar dari penyiar berita televisi atau kita baca dari tulisan surat kabar harian.  Setiap hari kita disuguhi skandal dusta dan penipuan. Seolah-olah bangsa Indonesai hanya dihuni para bandit dan bajingan tengik yang kerjaannya membuat onar di mana-mana. Kita begitu rindu mendengar berita tentang kejujuran dan ketulusan. Entah berita itu berasal dari kisah rakyat biasa terlebih lagi jika berasal dari para pejabat publik.

Andaikan kita diberi berkah kecerdasan serta kekuatan untuk menolak kejahatan tersembunyi seperti si tukang ikan dalam cerita tadi niscaya para penjahat sudah berjubel memenuhi bui. Sayangnya kita sudah terkontaminasi oleh suatu penyakit bernama kebiasaan. Menyerahkan uang pelicin untuk memuluskan jalan menuju suatu jabatan sudah tidak diangap tindak criminal karena biasa. Menerima amplop dari orang tua murid dengan pesan anaknya dijamin naik kelas diangap sebagai hal yang normal karena biasa dilakukan oleh banyak orang. Membagi persentasi dana bantuan dengan pemegang kebijakan dianggap baik-baik saja karena sudah biasa. Dan banyak lagi kejahatan yang dilakukan secara masal namun dianggap tidak apa-apa karena alasan kebiasaan.

Jika kebiasaan bertindak tidak jujur kita wariskan kepada generasi setelah kita niscaya bangsa ini berubah menjadi bangsa bandit. Bangsa yang melegalkan kejahatan, bangsa yang menyebarluaskan kerusakan di muka bumi adalah bangsa yang berhak atas azab Allah swt. Seperti halnya kaum Tsamud yang diluluh lantahkan oleh angin ribut karena kecurangannya mengurangi timbangan.

Ketulusan dan kejujuran tidak akan tumbuh sendiri apalagi di hati yang telah gersang dipenuhi debu matrealisme. Ketulusan dan kejujuran harus ditanam, disirami dan dinutrisi agar terus tumbuh dan berkembang. Mari kita mulai menanam bibit kejujuran dari mulai hal-hal yang kecil, kepada orang-orang terdekat dan secepat mungkin. Semoga dengan kesadaran satu atau dua individu akan pentingnya hidup dalam kejujuran dan ketulusan bangsa ini tertunda dari azab. Dan semoga dengan menyebarnya bibit kejujuran dan ketulusan azab yang seharusnya menimpa bangsa Indonesia dicabut kembali oleh Allah swt. Amien

Dikisahkan bahwa pada sebuah pesta besar yang diadakan oleh seorang kaya raya, ahli masak yang sedang sibuk di dapur mendadak bingung. Mereka kehilangan dua puluh ekor ikan emas besar yang akan dijadikan hidangan utama. Kejadian ini pun diketahui oleh sang juragan. Setelah menggerutu dan sedikit memarahi juru masak atas kelalaian mereka menjaga ikan emas dari tangan usil pencuri, juragan kaya itu mengutus pembantunya pergi ke pasar untuk membeli ikan lagi.

Setelah beberapa lama menunggu, pembantu datang bersama seorang laki-laki yang membawa beberapa ekor ikan emas yang nampak lebih besar dari ikan yang hilang. Juragan pun tersenyum senang, dipersilahkanya laki-laki itu duduk.

Berapa harga semua ikan yang kamu bawa ini ?”

Ikan-ikan ini telah membuat kesusahan dalam hidup saya, oleh karena itu saya tidak akan melepaskannya dengan harga yang murah”

Boleh, berapa rupiah yang engkau inginkan untuk ikan-ikanmu ini?”

Saya hanya minta seratus kali cambukan sebagai harga semua ikan-ikan ini”

Juragan kaya terperanjat mendengar permintaan aneh laki-laki pembawa ikan tersebut. Dia menanyakan mengapa harus dibayar dengan seratus kali cambukan, namun si laki-laki tetap bersikeras menginginkan bayaran seratus kali cambukan. Karena tidak ingin berpanjang urusan, si juragan menyanggupi permintaan si tukang ikan yang aneh itu.

Satu demi satu cambukan mendarat di pungung telanjang si tukang ikan. Ia hanya menggigit bajunya setiap kali mendapatkan cambukan. Ketika cambukan masuk hitungan lima puluh, si tukang ikan segera berdiri

Cukup sudah bagianku! Aku punya teman yang berhak mendapatkan setengah bagian dari harga ikan itu.”

Siapa temanmu itu, wahai tukang ikan?” timpal sang juragan kaya raya

Temanku adalah penjaga gerbang rumah tuan yang meminta setengah bagian dari harga ikanku sebagai imbalan memperbolehkanku memasuki tempat yang istimewa ini”

Maka penjaga gerbang pun dipanggil untuk mendapatkan bagiannya. Lima puluh cambukan mendarat dipunggungnya. Sebagai tambahan atas kecurangannya, jurangan kaya memecat dia dari pekerjaannya. Sedangkan si tukang ikan cerdik mendapatkan harga setimpal dari ikan dan kepintarannya. Dia pulang membawa uang dua kali lipat, hasil penjualan ikan dan hadiah atas kepintarannya membuka kedok si penjaga gerbang.

Di zaman sekarang ini, dimana segala sesuatu selalu diukur dengan uang, sungguh sangat sulit mendapatkan orang-orang yang tulus. Setiap kebaikan mesti diakhiri dengan komisi; lowongan pekerjaan sudah dijadikan barang objekan oleh oknum officer, hanya yang bisa membayar lebih tinggi bisa mengisi kursi. Begitu juga dengan seleksi pegawai negeri, ada komisi anda bisa jadi, tanpa komisi jangan harap bisa jadi. Ditambah lagi kasus jual-beli kursi di perguruan tinggi negeri.

Contoh yang paling aktual adalah maraknya mafia peradilan. Entah sudah berapa orang hakim, jaksa atau polisi yang masuk bui gara-gara komisi, dan tentunya masih banyak lagi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Kita sebagai rakyat kecil sudah geram mendengar berita televisi atau koran tentang kelicikan para pemburu komisi. Segala macam cara dari mulai yang halus sampai kasar menjurus pada penghilangan nyawa seseorang mereka lakukan hanya untuk memuluskan nafsu materil. Maka tidak heran jika keadilan di negri ini sulit dan tidak pernah bisa ditegakkan.

Kejujuran dan ketulusan adalah dua kata yang sangat asing kita dengar dari penyiar berita televisi atau kita baca dari tulisan surat kabar harian.  Setiap hari kita disuguhi skandal dusta dan penipuan. Seolah-olah bangsa Indonesai hanya dihuni para bandit dan bajingan tengik yang kerjaannya membuat onar di mana-mana. Kita begitu rindu mendengar berita tentang kejujuran dan ketulusan. Entah berita itu berasal dari kisah rakyat biasa terlebih lagi jika berasal dari para pejabat publik.

Andaikan kita diberi berkah kecerdasan serta kekuatan untuk menolak kejahatan tersembunyi seperti si tukang ikan dalam cerita tadi niscaya para penjahat sudah berjubel memenuhi bui. Sayangnya kita sudah terkontaminasi oleh suatu penyakit bernama kebiasaan. Menyerahkan uang pelicin untuk memuluskan jalan menuju suatu jabatan sudah tidak diangap tindak criminal karena biasa. Menerima amplop dari orang tua murid dengan pesan anaknya dijamin naik kelas diangap sebagai hal yang normal karena biasa dilakukan oleh banyak orang. Membagi persentasi dana bantuan dengan pemegang kebijakan dianggap baik-baik saja karena sudah biasa. Dan banyak lagi kejahatan yang dilakukan secara masal namun dianggap tidak apa-apa karena alasan kebiasaan.

Jika kebiasaan bertindak tidak jujur kita wariskan kepada generasi setelah kita niscaya bangsa ini berubah menjadi bangsa bandit. Bangsa yang melegalkan kejahatan, bangsa yang menyebarluaskan kerusakan di muka bumi adalah bangsa yang berhak atas azab Allah swt. Seperti halnya kaum Tsamud yang diluluh lantahkan oleh angin ribut karena kecurangannya mengurangi timbangan.

Ketulusan dan kejujuran tidak akan tumbuh sendiri apalagi di hati yang telah gersang dipenuhi debu matrealisme. Ketulusan dan kejujuran harus ditanam, disirami dan dinutrisi agar terus tumbuh dan berkembang. Mari kita mulai menanam bibit kejujuran dari mulai hal-hal yang kecil, kepada orang-orang terdekat dan secepat mungkin. Semoga dengan kesadaran satu atau dua individu akan pentingnya hidup dalam kejujuran dan ketulusan bangsa ini tertunda dari azab. Dan semoga dengan menyebarnya bibit kejujuran dan ketulusan azab yang seharusnya menimpa bangsa Indonesia dicabut kembali oleh Allah swt. Amien

Maret 22, 2010

Kiyai Kaya

Posted in Uncategorized pada 7:26 am oleh lazuardibirru

Orang kaya siapa pun dia dan di mana pun tinggalnya selalu memiliki pemuja. Masyarakat cenderung menjadikan para hartawan sebagai public figure dan rule model bagi anak-anaknya. Apalagi jika si orang kaya tersebut seorang alim yang mengerti dan melaksanakan syariat agama, tentunya kekaguman masyarakat akan menjadi berlipat ganda.

Di sebuah kampung dekat kantor kecamatan tinggal seorang kiyai yang dikenal bisa mengobati berbagai penyakit. Pengobatan alternatif yang dia jalankan dengan ramuan bahan-bahan alami terkenal ampuh mengusir penyakit sehingga setiap hari pasiennya berbondong-bondong mendatangi rumah pak kiyai. Rumah beliau pun berubah manjadi klinik masyarakat karena mayoritas dipenuhi oleh kalangan bawah yang mencari pengobatan berbiaya ringan.

Meskipun diakui kepatenannya, pak kiyai tidak pernah meminta bayaran kepada pasien-pasiennya. Mereka hanya menyimpan amplop di tempat duduk pak kiyai yang isinya tergantung kemampuan. Jadi klinik kesehatan ini bukan klinik komersil yang dapat menjadikan pemiliknya kaya raya. Namun demikian Allah maha melihat, kebaikan hati pak kiyai mengobati tanpa pamrih dibalas dengan kebaikan hamba-hamba Allah yang bergelimang harta.

Dari ratusan bahkan ribuan pasiennya, terselip beberapa puluh orang yang termasuk pengusaha besar. Mereka datang berobat ke klinik pak kiyai karena dokter dan peralatan medis modern sudah tidak mampu menangani penyakitnya. Al-hasil berkat bantuan keridhaan Allah, penyakit mereka sembuh setelah berobat di klinik pak kiayai. Para hartawan ini tanpa diminta memberikan uang berlimpah kepada pak kiyai. Bahkan ada beberapa orang yang langsung menghadiahkan kendaraan roda empat keluaran baru.

Tambah hari pasien bertambah banyak. Pak kiyai sudah tidak sanggup menangani sendiri, beliau pun mempekerjakan beberapa orang untuk membantu tugasnya di klinik kesehatan. Masyarakat mendapat berkah dari kemajuan klinik pak kiyai. Banyaknya pasien yang datang membawa rejeki beragam, ada yang berjualan, mengatur parkir bahkan ada juga warga yang menyewakan kamarnya bagi keluarga pasien yang mau menginap.

Tampak disadari pak kiyai sekarang telah dianggap sebagai orang paling kaya oleh warga. Segala kemewahan ada di dalam rumahnya; furniture berkelas, pendingin ruangan, alat-alat elektronik, buah-buahan segar di dalam lemari pendingin, bahan makanan di dapur yang tidak akan habis dimakan satu bulan dan lain sebagainya.

Banyak warga bermimpi hidup seperti pak kiyai, bergelimang harta tanpa bekerja keras karena sudah banyak asisiten yang melaksanakan pekerjaannya. Mereka berangan-angan bisa membeli tanah berhektar-hektar, membagikan sembako kepada fakir miskin setiap awal bulan, memberi uang anak yatim setiap ada kesempatan, membangun beberapa rumah rumah untuk anak-anak dan lain sebagainya seperti yang dilakukan pak kiyai dengan uangnya. Mereka berharap jika tidak bisa melakukannya sekarang, mungkin besok selepas bangun tidur mereka bisa melakukannya. Namun sayang esok pagi tidak terjadi perubahan. Mereka pun berharap pada minggu depan, selanjutnya bulan depan dan tahun depan. Karena mereka hanya berharap, harapannya tidak pernah bisa menjadi nyata. Akhirnya warga menyerah, berhenti berharap dan menjalankan hidup dengan kekecewaan.

Kesuksesan yang selalu diiringi dengan kekayaan senantiasa membuat manusia tergoda. Mereka berangan-angan hidup senang seperti orang sukses yang dikenal, namun melupakan sutu hal yang paling fundamental dari sebuah kesuksesan. Menjadi sukses selalu melewati proses. Orang tidak bisa langsung mendapatkan kesuksesan dalam hitungan satu malam karena kesuksesan mempunyai jalan yang panjang dan terjal.

Pak kiyai dalam cerita di atas tidak mendapatkan kesuksesannya dalam kurun jam atau hari. Sebelum mendapatkan kemapuan mengobati orang, tentunya beliau melewati masa-masa belajar, melalui malam-malam dengan tirakat, menjalankan hari-hari dengan berpuasa dan hal-hal lain yang menunjang keilmuannya. Setelah bisa mengobati pun beliau tidak serta-merta mendapatkan kemasyuran. Pengorbanan beliau menolong tanpa pamrih menjadi kredit poin tersendiri bagi kesuksesannya.

Menjadi sukses adalah hak setiap orang, pun mendapat kekayaan dari kesuksesan tersebut. Kesuksesan dalam hidup akan terasa manis bila terlebih dahulu melalui proses yang penuh tantangan dan cobaan. Mari kita berproses menjadi sukses, karena kesuksesan selalu membutuhkan proses

Maret 18, 2010

Cinta Tak Mesti Memiliki

Posted in Uncategorized pada 7:53 am oleh lazuardibirru

Berawal dari memandang, muncul keinginan untuk mengenal, lalu perlahan raga mengajak mendekat dan pada akhirnya timbul keinginan kuat untuk mengikat. Itulah cinta, yang senantiasa mendorong sang pencinta untuk berusaha memiliki orang yang dicinta.

Apakah cinta harus selalu memiliki? Siapa yang tidak mengenal Kabil, putra pertama bapak manusia Adam. Allah SWT  mengabadikan kisah tragis dua anak manusiayang berselisih karena cinta. Kabil putra tertua diam-diam memendam cinta pada Iklima, saudara kembarnya yang cantik jelita. Namun sayang, Adam telah menetapkan Iklima sebagai pasangan Habil. Sedangkan Kbil dijodahkan dengan saudara kembar Habil yang kurang cantik.

Naluri kemanusiaan Kabil menolak keputusan sang ayah. Ia menuduh ayahnya menetukan pilihan berdasarkan keinginan sendiri bukan atas perintah Tuhan. Dengan sangat bijak Adam memerintahkan kedua anaknya untuk berkurban kepada Allah. Barang siapa kurbannya diterima Allah, maka ia yang berhak menikahi si cantik Iklima.

Dalam kitab Showi, syarah Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa pada waktu itu tanda diterimanya kurban adalah turunnya api dari langit yang membakar kurban tersebut. Beruntunglah Habil yang ikhlas mengorbankan domba terbaiknya karena Allah menerima kurbannya dengan mengirim api yang membakar kurban Habil. Adapun kurban Kabil, tidak tersentuh api sama-sekali. Hal ini dikarenakan Allah tidak menyukai anak yang menentang perintah orang tua.

Belajar dari kedua anak Adam a.s, ternyata cinta tidak harus memiliki. Karena ketika cinta mengharuskan memiliki maka apapun halangan dan rintangan akan diterabas  tak peduli harus menentang orang tua. Bahkan ketika peluang untuk memiliki benar-benar musnah, kebanyakan pecinta model ini akan membunuh, seperti Kabil yang membunuh adiknya Habil karena hasratnya untuk memiliki Ikrima tidak tercapai.

Jika cinta jangan memaksa karena jika dipaksakan yang timbul bukanlah kedamaian melainkan kesengsaraan. Bukankah mencintai itu berharap kebahagiaan bagi orang yang kita cintai? Dengan cara memaksa untuk memiliki pujaan hati kita belum bias mencintai dengan hati. Cinta model ini hanyalah cinta badani yang timbul dari kecenderungan syahwat birahi.

Jika memang cinta, kita harus lapang dada menerima takdir yang telah ditentukan Sang Pencipta. Yakinlah bahwa keputusan Allah selalu menjadi yang terbaik, “Terkadang kita mencintai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kita, dan terkadang pula kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita.”

Semoga kita terhindar dari cinta buta yang menghalalkan segala cara untuk memiliki orang yang dicinta. Mencintai adalah anugerah. Dan anugerah terindah adalah kebahagiaan orang yang kita cinta meski tidak ditakdirkan untuk bersama.

Maret 15, 2010

Budaya Keledai

Posted in Uncategorized pada 1:46 am oleh lazuardibirru

Alkisah ada dua ekor kuda yang asik jalan- jalan. Masing- masing membawa garam dan sebongkah karang. Setiba di sungai, si pembawa garam menyelam ke dalamnya dan minum. Setelah puas, ia kembali menghampiri kawanya dengan riang gembira. Melihat sahabatnya yang begitu riang, si pembawa karang terheran- heran dan bertanya: “Apa yang membuatmu begitu gembira kawan?”. “Bagaimana  aku tidak gembira, sedangkan ketika aku menyelam untuk minum seluruh garam yang membebani pundakku larut semua” jawabnya pendek. Dari penuturan si pembawa garam,tanpa berpikir panjang si pembawa karang pun ikut menyelam dengan maksud  untuk menghilangkan beban di pundaknya. Tapi apakah yang terjadi? Teryata beban yang ada di pundaknya menjadi lebih berat dari sebelumnya. Akhirnya  ia pun meringik kesakitan.

Dari cerita diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa setiap perbuatan yang baik bagi seseorang belum tentu akan berakibat baik bagi kita. Kalau kita buat perbandingan dari cerita di atas tidak jauh beda. Terbukti dengan tingkah pola hidup pemuda sekarang yang bercermin kepada pola hidup orang barat tanpa berkipir dahulu baik dan buruknya. Dipadu lagi dengan membanjirnya media informasi ke negeri kita. Bermula dari media elektronik inilah, selangkah demi selangkah kebudayaan timur yang terkenal dengan keramahannya luntur dari sanubari pemuda dan pemudi. Karena keegoan dan kegengsiannya mereka tiru budaya barat yang tidak jelas kemaslahatannya. Ada lagi yang berdalih modern apabila segala tingkah pola kita dibubuhi dengan budaya barat. Walaupun hanya kebobokran morallah yang kita peroleh, bukan sebaliknya.

Contoh yang paling mencolok sekali sikap ikut- ikutan pemuda kita dalam perayaan tahun baru masehi. Padahal kalau kita kupas lebih dalam, apa yang kita peroleh dari semua itu hanya kebodohan belaka. Tanpa kita sadari kita telah dicekoki dengan kebodohan- kebodohan.  Karena secara tidak langsung, kita turut merayakan tahun baru orang Nasrani yang tidak memiliki latar belakang sejarah yang rasional diadakannya perayaan tersebut. Berbeda dengan  perayaan tahun baru  hijriah dalam Islam. Bulan hijriyah memiliki background yang pasti yakni hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah untuk menata kehidupan umat atau melanjutkan tugas berdakwah setelah mendapatkan rintangan dan ancaman ketika berdakwah di Mekkah. Jadi pantas sajalah kalau kita merayakan 1 Muharram karena bertujuan untuk mensyukuri nikmat hijrah

Selanjutnya yang ngetren  baru- baru ini adalah perayaan valentine yang dijadikan moment  atau simbol kasih sayang oleh orang- orang Nasrani. Sebagai muslim yang kritis, tidak sepantasnya kita menetapkannaya dalam kehidupan kita sehari- hari. Karena versi kasih sayang barat begitu menyimpang. Kasih sayang mereka ungkapkan dengan kebebasan dalam seks dan berhura-hura hingga melampaui  batas kewajaran. Di balik dalil kasih sayang, bangsa Barat hendak membelokkan kebudayaan islam sebengkok- bengkoknya. Padahal  Islam sendiri adalah agama kasih sayang. Islam mengajarkan umatnya berkasih sayang yang berlaku  tiap detik, jam, hari dan sepanjang masa.

Kita adalah manusia yang bisa menerima atau menolak sesuatu yang datang kepada kita. Penolakan dan penerimaan tersebut tentunya melalui sebuah proses yang bernama pengkajian. Kita harus mengamati, meneliti lalu menjustifikasi apakah hal itu layak untuk diterima atau kita buang ke tong sampah. Budaya Barat yang menyerang kita melalui media elektronik dan kecanggihan teknologi merupakan bahan yang harus dijadikan kajian. Jika nyata kerusakan dan kejahatan yang terkandung dalam budaya Barat maka kita berkewajiban mencegahnya.

Mengikuti budaya orang lain tanpa mengetahui tujuannya dan tanpa mengkaji manfaatnya bagi diri kita merupakan sebuah tindakan bodoh. Kebodohan di manapun tidak pernah mendatangkan kemajuan dan kebahagiaan. Seperti contoh kisah keledai di atas, kebodohannya hanya memberikan tambahan beban sengsara. Kita tentu tidak mau disamakan dengan keledai.

Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Kebudayaan diciptakan manusia untuk menunjukan eksistensi dan jati diri. Sebagai bangsa Indonesia kita memiliki budaya yang turun menurun diwariskan oleh nenek moyang. Budaya itu akan luntur jika kita sebagai penerus melupakannya. Oleh karena itu mari kita tunjukan eksistensi bangsa Indonesia dengan menjunjung tinggi budaya dalam negeri. Kita ramaikan jalan-jalan kita, lapangan-lapangan kita, pertokoan dan pasar kita dengan budaya Indonesia. Semoga dengan melestarikan budaya leluhur kita terhindar dari budaya keledai yang hanya mendatangkan kesengsaraan.

Laman berikutnya