April 1, 2010

SAYANG BUKAN SEKADAR CINTA

Posted in Uncategorized pada 8:43 am oleh lazuardibirru

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, inilah ayat pertama Ummul Qur’an yang menjadi pembuka turunnya wahyu Allah ke dunia Ar-Rahman Ar-Rahim, dua kata yang memilki satu akar “Rahima” berarti menyayangi.

Ibnu Qayyim menjelaskan gabungan kata Ar-Rahman, Ar-Rahim mengandung makna yang mendalam. Ar-Rahman Menunjukkan pada satu sifat kasih-sayang yang melekat kuat pada Allah SWT. Sedangkan Ar-Rahim menunjukkan keterkaitan sifat itu dengan objeknya.

Allah memilki Al-Asmaul Husna yang tersebar dalam Al-Qur’an dari mulai surat Al-Baqaroh sampai An-Naas. Mengapa zat yang maha suci menempatkan Ar-Rahman Ar-Rahim bersanding dengan namanya di awal kitab suci al-Qur’an?. Tentu tidak semata-mata Allah meletakkannya dengan tanpa maksud, karena Allah tidak mungkin melakukan sesuatu jika hal tersebut tidak mengandung hikmah.

Ar-Rahman Ar-Rahim menjadi pertanda bahwa kasih sayang Allah adalah sumber dari semua sifatNya. Allah maha besar, maha kuasa, maha kuat, kekuatan, kebesaran serta kekuasaanNya tidak semena-mena karena selalu di dasari kasih sayang. Allah maha pengampun, penerima taubat, pemberi rizki, semuanya bersumber dari rasa kasih sayang yang melekat erat dalam dzat Allah.

Kasih itu tidak pernah pilih-pilih, sayang itu tidak pernah bisa terbilang. Ketika kasih berkolaborasi dengan sayang maka yang dihasilkan adalah sifat memberi tanpa tendesi.

Berbeda halnya dengan cinta yang seringkali terkontaminasi karena satu dan lain sebab, kasih sayang selalu hadir dalam bentuk aslinya.

Dalam sebuah tayangan televise ‘Wild Life’, saya masih merekam dalam ingatan adegan seekor cheetah betina yang berburu rusa. Ia keluar dari sarang setelah lama istirahat pasca melahirkan, tuntutan memberi makan untuk anak-anaknya menyeret keempat kaki cheetah kurus tersebut ke padang rumput untuk berburu. Ringkasnya ia berhasil menangkap seekor antelove setelah terlebih dahulu memeras keringat untuk mengejar mangsanya.

Cheetah betina itu menyeret mangsanya kesarang di mana kedua anaknya telah menunggu. sesampainya di sarang, kedua anaknya langsung memburu bangkai antelove, mereka makan sebentar lalu mendadak ribut. Dua kakak-beradik itu saling mencakar, berteriak-teriak memperebutkan isi perut antolove.

Si ibu mulai khawatir dengan sikap kedua anaknya yang bisa mengundang marabahaya. Dan ternyata, kekhawatiran cheetah betina tersebut benar adanya, segerombolan anjing hutan datang menyerbu. Tidak ada pilihan lain baginya selain berlari  menyelamatkan anak-anaknya dari serangan tamu tak diundang.

Apakah setelah peristiwa tersebut si ibu cheetah tidak mau berburu  lagi untuk memberi makanan anak-anaknya? Tidak, dengan lapang dada ia kembali berburu dan terus berburu hingga kedua anaknya mampu mencari mangsanya sendiri

Cheetah betina telah mengajari kita seni menyayangi yang hadir dari kedalaman hati dan tetap terjaga kesuciannya meski balasannya tak sebaik yang di inginkan. Demikian juga sanyang orang tua terhadap anaknya, tak pernah bisa hilang hingga akhir masa. Meski seringkali disalah pahami oleh anaknya, orang tua bertahan menyimpan sayang bagai matahari yang tak henti-hentinya menyinari bumi meski banyak manusia mencaci-maki sinarnya.

Masih ada sayang lain yang tak lekang oleh jaman, sayang seorang guru kepada muridnya. Guru sejati akan tersenyum bahagia ketika muridnya yang selalu tidur selama pelajaran berlangsung, becanda saat ia menulis rangkuman di papan tulis, beralasan tidak tahu waktu ditanya pekerjaan rumah, datang minta penjelaasan pelajaran pada detik-detik akhir menjelang ujian.

Sayang benar-benar bukan sekedar cinta yang bisa hilang pada satu kesempatan sebagai mana sang penyair  legendaris, Kahlil Gibran menggambarkan; seorang wanita dengan wajah merona mendatangi pria dan berkata ”aku mencintaimu”. Si pria diam tanpa ekspresi lalu dengan serta merta si wanita berkata “aku benci kamu”.

Cinta bisa datang dan pergi begitu saja, sekarang kau mencintaiku, esok atau lusa kau sudah membenci. Sungguh benar nasehat nabi Muhammad saw kepada orang-orang yang bercinta ”cintailah kekasihmu sekedarnya, mungkin ia akan menjadi musuhmu esok hari”.

Masihkah kita berbangga dengan cinta jika akan hilang pada waktunya? Masihkah kita berkhidmat pada cinta jika ia selalu meminta? Cinta memang dahsyat; kekuatan yang bisa mencipta, candu abadi yang mampu hilangkan nyawa, bubuk mesiu yang sering kobarkan perang, juga bendera penggagas perdamaian. Meski demikian cinta tetaplah sebuah batang.

Bagaikan pohon, cinta adalah batang yang di atasnya tumbuh ranting-ranting di setiap tepi ranting tubuh dedaunan dan di antara dedaunan berkembang bunga yang kemudian menghadirkan buah. Bisakah sebuah batang berdaun, berbunga, lalu berbuah tanpa akar?

Jawabnya sudah kita ketahui bersama, tapi apakah semua orang tahu apa akar yang bisa menumbuhkan ranting, daun, dan buah?

Akar pohon bernama cinta adalah rahmah, kasih sayang. Kasih sayang selalu ada dalam hati yang paling dalam seperti akar yang tumbuh merambat dalam tanah. Janganlah pernah mengatakan cinta bila sayang belum tertanam karena hanya akan memberikan impian yang tak pernah menjadi kenyataan. Janganlah pernah berikan cinta bila sayang belum menyerap dalam hati karna ia tidak akan bertahan lama semisal batang jagung yang mudah di tumbangkan angin.

Sayang yang tertanam dalam dada lalu tumbuh mengakar di hati akan menjadikan hidup ini hijau menyejukkan, warna-warni mencerahkan, manis membahagiakan seperti kalaborasi daun, bunga dan buah.

“Tak ada kesulitan yang tak dapat dikalahkan oleh kasih yang dalam. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih yang dalam. Tak ada pintu yang tak akan dibukakan oleh kasih yang dalam. Tak ada teluk yang tak mungkin di jembatani oleh kasih yang dalam. Tak ada dinding yang tak dapat di hancurkan oleh kasih yang dalam. tak ada dosa yang tak dapat di tebus oleh kasih yang dalam. Tak perduli……betapa besarnya kesulitan, betapa sirnanya harapan, betapa rumitnya masalah, betapa besarnya kesalahan, kesadaran akan kasih sayang yang dalam dapat menguraikan semuanya. Bila kita mengasihi dengan tulus, kita akan menjadi makhluk yang paling bahagia dan paling kuat di dunia.” (Emmen Fox)

2 Komentar »

  1. rizza indar said,

    LIKE THIS!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: