Maret 24, 2010

Mencari Kejujuran, Berharap Ketulusan

Posted in Uncategorized pada 2:30 am oleh lazuardibirru

Dikisahkan bahwa pada sebuah pesta besar yang diadakan oleh seorang kaya raya, ahli masak yang sedang sibuk di dapur mendadak bingung. Mereka kehilangan dua puluh ekor ikan emas besar yang akan dijadikan hidangan utama. Kejadian ini pun diketahui oleh sang juragan. Setelah menggerutu dan sedikit memarahi juru masak atas kelalaian mereka menjaga ikan emas dari tangan usil pencuri, juragan kaya itu mengutus pembantunya pergi ke pasar untuk membeli ikan lagi.

Setelah beberapa lama menunggu, pembantu datang bersama seorang laki-laki yang membawa beberapa ekor ikan emas yang nampak lebih besar dari ikan yang hilang. Juragan pun tersenyum senang, dipersilahkanya laki-laki itu duduk.

Berapa harga semua ikan yang kamu bawa ini ?”

Ikan-ikan ini telah membuat kesusahan dalam hidup saya, oleh karena itu saya tidak akan melepaskannya dengan harga yang murah”

Boleh, berapa rupiah yang engkau inginkan untuk ikan-ikanmu ini?”

Saya hanya minta seratus kali cambukan sebagai harga semua ikan-ikan ini”

Juragan kaya terperanjat mendengar permintaan aneh laki-laki pembawa ikan tersebut. Dia menanyakan mengapa harus dibayar dengan seratus kali cambukan, namun si laki-laki tetap bersikeras menginginkan bayaran seratus kali cambukan. Karena tidak ingin berpanjang urusan, si juragan menyanggupi permintaan si tukang ikan yang aneh itu.

Satu demi satu cambukan mendarat di pungung telanjang si tukang ikan. Ia hanya menggigit bajunya setiap kali mendapatkan cambukan. Ketika cambukan masuk hitungan lima puluh, si tukang ikan segera berdiri

Cukup sudah bagianku! Aku punya teman yang berhak mendapatkan setengah bagian dari harga ikan itu.”

Siapa temanmu itu, wahai tukang ikan?” timpal sang juragan kaya raya

Temanku adalah penjaga gerbang rumah tuan yang meminta setengah bagian dari harga ikanku sebagai imbalan memperbolehkanku memasuki tempat yang istimewa ini”

Maka penjaga gerbang pun dipanggil untuk mendapatkan bagiannya. Lima puluh cambukan mendarat dipunggungnya. Sebagai tambahan atas kecurangannya, jurangan kaya memecat dia dari pekerjaannya. Sedangkan si tukang ikan cerdik mendapatkan harga setimpal dari ikan dan kepintarannya. Dia pulang membawa uang dua kali lipat, hasil penjualan ikan dan hadiah atas kepintarannya membuka kedok si penjaga gerbang.

Di zaman sekarang ini, dimana segala sesuatu selalu diukur dengan uang, sungguh sangat sulit mendapatkan orang-orang yang tulus. Setiap kebaikan mesti diakhiri dengan komisi; lowongan pekerjaan sudah dijadikan barang objekan oleh oknum officer, hanya yang bisa membayar lebih tinggi bisa mengisi kursi. Begitu juga dengan seleksi pegawai negeri, ada komisi anda bisa jadi, tanpa komisi jangan harap bisa jadi. Ditambah lagi kasus jual-beli kursi di perguruan tinggi negeri.

Contoh yang paling aktual adalah maraknya mafia peradilan. Entah sudah berapa orang hakim, jaksa atau polisi yang masuk bui gara-gara komisi, dan tentunya masih banyak lagi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Kita sebagai rakyat kecil sudah geram mendengar berita televisi atau koran tentang kelicikan para pemburu komisi. Segala macam cara dari mulai yang halus sampai kasar menjurus pada penghilangan nyawa seseorang mereka lakukan hanya untuk memuluskan nafsu materil. Maka tidak heran jika keadilan di negri ini sulit dan tidak pernah bisa ditegakkan.

Kejujuran dan ketulusan adalah dua kata yang sangat asing kita dengar dari penyiar berita televisi atau kita baca dari tulisan surat kabar harian.  Setiap hari kita disuguhi skandal dusta dan penipuan. Seolah-olah bangsa Indonesai hanya dihuni para bandit dan bajingan tengik yang kerjaannya membuat onar di mana-mana. Kita begitu rindu mendengar berita tentang kejujuran dan ketulusan. Entah berita itu berasal dari kisah rakyat biasa terlebih lagi jika berasal dari para pejabat publik.

Andaikan kita diberi berkah kecerdasan serta kekuatan untuk menolak kejahatan tersembunyi seperti si tukang ikan dalam cerita tadi niscaya para penjahat sudah berjubel memenuhi bui. Sayangnya kita sudah terkontaminasi oleh suatu penyakit bernama kebiasaan. Menyerahkan uang pelicin untuk memuluskan jalan menuju suatu jabatan sudah tidak diangap tindak criminal karena biasa. Menerima amplop dari orang tua murid dengan pesan anaknya dijamin naik kelas diangap sebagai hal yang normal karena biasa dilakukan oleh banyak orang. Membagi persentasi dana bantuan dengan pemegang kebijakan dianggap baik-baik saja karena sudah biasa. Dan banyak lagi kejahatan yang dilakukan secara masal namun dianggap tidak apa-apa karena alasan kebiasaan.

Jika kebiasaan bertindak tidak jujur kita wariskan kepada generasi setelah kita niscaya bangsa ini berubah menjadi bangsa bandit. Bangsa yang melegalkan kejahatan, bangsa yang menyebarluaskan kerusakan di muka bumi adalah bangsa yang berhak atas azab Allah swt. Seperti halnya kaum Tsamud yang diluluh lantahkan oleh angin ribut karena kecurangannya mengurangi timbangan.

Ketulusan dan kejujuran tidak akan tumbuh sendiri apalagi di hati yang telah gersang dipenuhi debu matrealisme. Ketulusan dan kejujuran harus ditanam, disirami dan dinutrisi agar terus tumbuh dan berkembang. Mari kita mulai menanam bibit kejujuran dari mulai hal-hal yang kecil, kepada orang-orang terdekat dan secepat mungkin. Semoga dengan kesadaran satu atau dua individu akan pentingnya hidup dalam kejujuran dan ketulusan bangsa ini tertunda dari azab. Dan semoga dengan menyebarnya bibit kejujuran dan ketulusan azab yang seharusnya menimpa bangsa Indonesia dicabut kembali oleh Allah swt. Amien

Dikisahkan bahwa pada sebuah pesta besar yang diadakan oleh seorang kaya raya, ahli masak yang sedang sibuk di dapur mendadak bingung. Mereka kehilangan dua puluh ekor ikan emas besar yang akan dijadikan hidangan utama. Kejadian ini pun diketahui oleh sang juragan. Setelah menggerutu dan sedikit memarahi juru masak atas kelalaian mereka menjaga ikan emas dari tangan usil pencuri, juragan kaya itu mengutus pembantunya pergi ke pasar untuk membeli ikan lagi.

Setelah beberapa lama menunggu, pembantu datang bersama seorang laki-laki yang membawa beberapa ekor ikan emas yang nampak lebih besar dari ikan yang hilang. Juragan pun tersenyum senang, dipersilahkanya laki-laki itu duduk.

Berapa harga semua ikan yang kamu bawa ini ?”

Ikan-ikan ini telah membuat kesusahan dalam hidup saya, oleh karena itu saya tidak akan melepaskannya dengan harga yang murah”

Boleh, berapa rupiah yang engkau inginkan untuk ikan-ikanmu ini?”

Saya hanya minta seratus kali cambukan sebagai harga semua ikan-ikan ini”

Juragan kaya terperanjat mendengar permintaan aneh laki-laki pembawa ikan tersebut. Dia menanyakan mengapa harus dibayar dengan seratus kali cambukan, namun si laki-laki tetap bersikeras menginginkan bayaran seratus kali cambukan. Karena tidak ingin berpanjang urusan, si juragan menyanggupi permintaan si tukang ikan yang aneh itu.

Satu demi satu cambukan mendarat di pungung telanjang si tukang ikan. Ia hanya menggigit bajunya setiap kali mendapatkan cambukan. Ketika cambukan masuk hitungan lima puluh, si tukang ikan segera berdiri

Cukup sudah bagianku! Aku punya teman yang berhak mendapatkan setengah bagian dari harga ikan itu.”

Siapa temanmu itu, wahai tukang ikan?” timpal sang juragan kaya raya

Temanku adalah penjaga gerbang rumah tuan yang meminta setengah bagian dari harga ikanku sebagai imbalan memperbolehkanku memasuki tempat yang istimewa ini”

Maka penjaga gerbang pun dipanggil untuk mendapatkan bagiannya. Lima puluh cambukan mendarat dipunggungnya. Sebagai tambahan atas kecurangannya, jurangan kaya memecat dia dari pekerjaannya. Sedangkan si tukang ikan cerdik mendapatkan harga setimpal dari ikan dan kepintarannya. Dia pulang membawa uang dua kali lipat, hasil penjualan ikan dan hadiah atas kepintarannya membuka kedok si penjaga gerbang.

Di zaman sekarang ini, dimana segala sesuatu selalu diukur dengan uang, sungguh sangat sulit mendapatkan orang-orang yang tulus. Setiap kebaikan mesti diakhiri dengan komisi; lowongan pekerjaan sudah dijadikan barang objekan oleh oknum officer, hanya yang bisa membayar lebih tinggi bisa mengisi kursi. Begitu juga dengan seleksi pegawai negeri, ada komisi anda bisa jadi, tanpa komisi jangan harap bisa jadi. Ditambah lagi kasus jual-beli kursi di perguruan tinggi negeri.

Contoh yang paling aktual adalah maraknya mafia peradilan. Entah sudah berapa orang hakim, jaksa atau polisi yang masuk bui gara-gara komisi, dan tentunya masih banyak lagi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Kita sebagai rakyat kecil sudah geram mendengar berita televisi atau koran tentang kelicikan para pemburu komisi. Segala macam cara dari mulai yang halus sampai kasar menjurus pada penghilangan nyawa seseorang mereka lakukan hanya untuk memuluskan nafsu materil. Maka tidak heran jika keadilan di negri ini sulit dan tidak pernah bisa ditegakkan.

Kejujuran dan ketulusan adalah dua kata yang sangat asing kita dengar dari penyiar berita televisi atau kita baca dari tulisan surat kabar harian.  Setiap hari kita disuguhi skandal dusta dan penipuan. Seolah-olah bangsa Indonesai hanya dihuni para bandit dan bajingan tengik yang kerjaannya membuat onar di mana-mana. Kita begitu rindu mendengar berita tentang kejujuran dan ketulusan. Entah berita itu berasal dari kisah rakyat biasa terlebih lagi jika berasal dari para pejabat publik.

Andaikan kita diberi berkah kecerdasan serta kekuatan untuk menolak kejahatan tersembunyi seperti si tukang ikan dalam cerita tadi niscaya para penjahat sudah berjubel memenuhi bui. Sayangnya kita sudah terkontaminasi oleh suatu penyakit bernama kebiasaan. Menyerahkan uang pelicin untuk memuluskan jalan menuju suatu jabatan sudah tidak diangap tindak criminal karena biasa. Menerima amplop dari orang tua murid dengan pesan anaknya dijamin naik kelas diangap sebagai hal yang normal karena biasa dilakukan oleh banyak orang. Membagi persentasi dana bantuan dengan pemegang kebijakan dianggap baik-baik saja karena sudah biasa. Dan banyak lagi kejahatan yang dilakukan secara masal namun dianggap tidak apa-apa karena alasan kebiasaan.

Jika kebiasaan bertindak tidak jujur kita wariskan kepada generasi setelah kita niscaya bangsa ini berubah menjadi bangsa bandit. Bangsa yang melegalkan kejahatan, bangsa yang menyebarluaskan kerusakan di muka bumi adalah bangsa yang berhak atas azab Allah swt. Seperti halnya kaum Tsamud yang diluluh lantahkan oleh angin ribut karena kecurangannya mengurangi timbangan.

Ketulusan dan kejujuran tidak akan tumbuh sendiri apalagi di hati yang telah gersang dipenuhi debu matrealisme. Ketulusan dan kejujuran harus ditanam, disirami dan dinutrisi agar terus tumbuh dan berkembang. Mari kita mulai menanam bibit kejujuran dari mulai hal-hal yang kecil, kepada orang-orang terdekat dan secepat mungkin. Semoga dengan kesadaran satu atau dua individu akan pentingnya hidup dalam kejujuran dan ketulusan bangsa ini tertunda dari azab. Dan semoga dengan menyebarnya bibit kejujuran dan ketulusan azab yang seharusnya menimpa bangsa Indonesia dicabut kembali oleh Allah swt. Amien

1 Komentar »

  1. Resa said,

    kunjungan pagi kk…
    jangn lupa mampir ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: