Maret 15, 2010

Budaya Keledai

Posted in Uncategorized pada 1:46 am oleh lazuardibirru

Alkisah ada dua ekor kuda yang asik jalan- jalan. Masing- masing membawa garam dan sebongkah karang. Setiba di sungai, si pembawa garam menyelam ke dalamnya dan minum. Setelah puas, ia kembali menghampiri kawanya dengan riang gembira. Melihat sahabatnya yang begitu riang, si pembawa karang terheran- heran dan bertanya: “Apa yang membuatmu begitu gembira kawan?”. “Bagaimana  aku tidak gembira, sedangkan ketika aku menyelam untuk minum seluruh garam yang membebani pundakku larut semua” jawabnya pendek. Dari penuturan si pembawa garam,tanpa berpikir panjang si pembawa karang pun ikut menyelam dengan maksud  untuk menghilangkan beban di pundaknya. Tapi apakah yang terjadi? Teryata beban yang ada di pundaknya menjadi lebih berat dari sebelumnya. Akhirnya  ia pun meringik kesakitan.

Dari cerita diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa setiap perbuatan yang baik bagi seseorang belum tentu akan berakibat baik bagi kita. Kalau kita buat perbandingan dari cerita di atas tidak jauh beda. Terbukti dengan tingkah pola hidup pemuda sekarang yang bercermin kepada pola hidup orang barat tanpa berkipir dahulu baik dan buruknya. Dipadu lagi dengan membanjirnya media informasi ke negeri kita. Bermula dari media elektronik inilah, selangkah demi selangkah kebudayaan timur yang terkenal dengan keramahannya luntur dari sanubari pemuda dan pemudi. Karena keegoan dan kegengsiannya mereka tiru budaya barat yang tidak jelas kemaslahatannya. Ada lagi yang berdalih modern apabila segala tingkah pola kita dibubuhi dengan budaya barat. Walaupun hanya kebobokran morallah yang kita peroleh, bukan sebaliknya.

Contoh yang paling mencolok sekali sikap ikut- ikutan pemuda kita dalam perayaan tahun baru masehi. Padahal kalau kita kupas lebih dalam, apa yang kita peroleh dari semua itu hanya kebodohan belaka. Tanpa kita sadari kita telah dicekoki dengan kebodohan- kebodohan.  Karena secara tidak langsung, kita turut merayakan tahun baru orang Nasrani yang tidak memiliki latar belakang sejarah yang rasional diadakannya perayaan tersebut. Berbeda dengan  perayaan tahun baru  hijriah dalam Islam. Bulan hijriyah memiliki background yang pasti yakni hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah untuk menata kehidupan umat atau melanjutkan tugas berdakwah setelah mendapatkan rintangan dan ancaman ketika berdakwah di Mekkah. Jadi pantas sajalah kalau kita merayakan 1 Muharram karena bertujuan untuk mensyukuri nikmat hijrah

Selanjutnya yang ngetren  baru- baru ini adalah perayaan valentine yang dijadikan moment  atau simbol kasih sayang oleh orang- orang Nasrani. Sebagai muslim yang kritis, tidak sepantasnya kita menetapkannaya dalam kehidupan kita sehari- hari. Karena versi kasih sayang barat begitu menyimpang. Kasih sayang mereka ungkapkan dengan kebebasan dalam seks dan berhura-hura hingga melampaui  batas kewajaran. Di balik dalil kasih sayang, bangsa Barat hendak membelokkan kebudayaan islam sebengkok- bengkoknya. Padahal  Islam sendiri adalah agama kasih sayang. Islam mengajarkan umatnya berkasih sayang yang berlaku  tiap detik, jam, hari dan sepanjang masa.

Kita adalah manusia yang bisa menerima atau menolak sesuatu yang datang kepada kita. Penolakan dan penerimaan tersebut tentunya melalui sebuah proses yang bernama pengkajian. Kita harus mengamati, meneliti lalu menjustifikasi apakah hal itu layak untuk diterima atau kita buang ke tong sampah. Budaya Barat yang menyerang kita melalui media elektronik dan kecanggihan teknologi merupakan bahan yang harus dijadikan kajian. Jika nyata kerusakan dan kejahatan yang terkandung dalam budaya Barat maka kita berkewajiban mencegahnya.

Mengikuti budaya orang lain tanpa mengetahui tujuannya dan tanpa mengkaji manfaatnya bagi diri kita merupakan sebuah tindakan bodoh. Kebodohan di manapun tidak pernah mendatangkan kemajuan dan kebahagiaan. Seperti contoh kisah keledai di atas, kebodohannya hanya memberikan tambahan beban sengsara. Kita tentu tidak mau disamakan dengan keledai.

Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Kebudayaan diciptakan manusia untuk menunjukan eksistensi dan jati diri. Sebagai bangsa Indonesia kita memiliki budaya yang turun menurun diwariskan oleh nenek moyang. Budaya itu akan luntur jika kita sebagai penerus melupakannya. Oleh karena itu mari kita tunjukan eksistensi bangsa Indonesia dengan menjunjung tinggi budaya dalam negeri. Kita ramaikan jalan-jalan kita, lapangan-lapangan kita, pertokoan dan pasar kita dengan budaya Indonesia. Semoga dengan melestarikan budaya leluhur kita terhindar dari budaya keledai yang hanya mendatangkan kesengsaraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: