Maret 11, 2010

Belajar Dari Nilai Victoria

Posted in Uncategorized pada 7:39 am oleh lazuardibirru

Masyarakat Indonesia seringkali mendengungkan penambahan jam belajar untuk pelajaran agama di sekolah-sekolah milik pemerintah. Mereka beralasan bahwa meningkatnya tindak kriminal di kalangan pelajar karena kurangnya muatan etika yang mereka terima dari sekolah. Kurangnya pendidikan agama di sekolah bukan hanya menyebabkan tawuran antar pelajar, peredaran obat terlarang, bulying dan tindak pidana serius seperti penodongan di bis kota yang dilakukan anak berseragam sekolah, tapi lebih dari itu mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh; bila menjadi pekerja sulit dipercaya, bila menjadi pengusaha cenderung memonopoli harga dan bila menjadi birokrat senantiasa mencuri uang rakyat.

Penambahan jam pelajaran agama mungkin bisa menjadi solusi tapi apakah ada jaminan bahwa mereka akan menjadi lebih baik hanya dengan penambahan jam pelajaran agama?

Sebelum lebih jauh kita masuk ke dalam pembahasan jam pelajaran agama, mari sejenak kita melihat realita yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Ambillah contoh kecil tentang kebersihan di sekolah-sekolah agama, baik pesantren salaf, modern atau madrasah. Para pengurus, pendidik dan pengasuh lembaga pendidikan agama sering kali mendengungkan kalimat sakti tentang kebersihan “an-nadzhofatu minal iman”, kebersihan itu sebagian dari iman. Sehingga kalimat sakti ini menyebar di segala penjuru pesantren dan madrasah, para santri-pelajar pun hapal di luar kepala. Bolehlah kita cek bersama bagaimana keadaan kamar mandi, toilet dan selokan di lingkungan pendidikan agama.

Sampah menumpuk di bawah tulisan jangan buang sampah sembarangan, kotoran mengering di samping pamplet ‘kebersihan sebagian dari iman’. Puntung rokok berserakan di kolong meja agen penyebar kalimat sakti “an-nadzofatu minal iman”.

Sebuah Pengalaman

Awal Agustus lalu atas kemurahan Allah saya berangkat ke Melbourne ibu kota negara bagian Victoria, Australia beserta rombongan dari Departemen Agama RI. Rombongan yang berjumlah sepuluh orang terdiri dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah terpilih setelah mengikuti program peningkatan wawasan kepala madrasah selama dua bulan di Malaysia, membawa misi belajar manajemen sekolah di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta di negara bagian Victoria.

Selama empat hari pertama kami di tempatkan di hotel berbintang lima, dua blok dari university of Melbourne.  Selama empat hari tersebut kami mendapatkan pembekalan dari pihak departemen pendidikan Victoria dan University of Melbourne tentang system pendidikan di Victoria khususnya dan Australian pada umumnya.

Setelah empat hari di kota besar, kami dikirim ke sekolah-sekolah di pedesaan Victoria untuk melihat langsung proses pendidikan di Australia. Secara kwantitas sekolah Indonesia jauh lebih unggul, di pesantren Ummul Quro Al-Islami tempat saya mengajar pada tahun ini tercatat siswa Tsanawiyah dan Aliyah berjumlah 2567. Rata-rata jumlah siswa di sekolah-sekolah milik pemerintah Victoria tidak lebih dari seribu, setiap kelas maksimal berjumlah 25 siswa. Jika melihat kwalitas dan fasilitas, kita masih harus mengelus dada, mudah-mudahan di tahun-tahun yang akan datang sekolah di negara kita bisa bersaing dengan sekolah-sekolah di negara maju dengan lulusan yang memiliki kompetensi bisa diterima di universitas-universitas terkemuka dunia.

Saya tidak mau berpanjang lebar menceritakan kwalitas dan fasilitas sekolah di Australia karena akan menambah luka hati sebagai insan pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah keadaan kelas dan fasilitas sekolah yang rapih dan bersih. Selama berada di sekolah, keluar-masuk dari satu kelas ke kelas yang lain, berkeliling melihat fasilitas sekolah saya tidak mendapatkan coretan, baik di dinding, toilet, kelas bahkan di meja.

Sedih rasanya melihat kenyataan siswa yang tidak pernah mengenal dalil kebersihan, “an-nadzofatu minal iman” telah berhasil melaksanakan nilai dari dalil tersebut. Sampah menjadi barang langka di lingkungan mereka, pena tidak pernah salah mecoretkan tulisan dan bau pesing kamar mandi sangat asing.

Murid-murid yang telah berhasil melaksanakan nilai yang kecil ini dalam lingkungan sekolah mereka, kelak ketika tumbuh dewasa menjadi pekerja yang sangat menghargai waktu, menjadi pengusaha yang jujur menjalankan bisnisnya dan pejabat pemerintahan yang peduli terhadap rakyatnya.

Saya tidak berani mengungkapkan hal di atas bila tidak melihat dengan mata sendiri. Guru-guru di sekolah baik milik pemerintah atau swasta selalu datang sebelum muridnya, sekolah mulai jam sembilan, murid-murid datang sepuluh menit sebelumnya, dan guru datang jam setengah sembilan. Sebelum KBM dimulai mereka berkumpul di ruang guru bersama kepala sekolah, membicarakan segala hal menyangkut program pendidikan anak didik. Ketika berada di Melbeourne, beberapa kali keynote speaker menunggu kami, peserta briefing di ruang pertemuan Asian Education Foundation.

Pemerintah negara bagian Victoria dalam program peningkatan profesionalisme guru membagikan laptop kepada semua guru di semua jenjang pendidikan. Guru hanya membayar 8 dolar perminggu dan setelah tiga tahun dia bisa minta laptop baru. Pemerintah membiayai semua kebutuhan sekolah sehingga pihak pengelola sekolah tidak meminta biaya bulanan dari siswa.

Mrs. Anne Mirtschin, seorang guru di Hawkesdale P12 college yang juga seorang petani memiliki perkebunan bunga dan peternakan kambing. Rumahnya terpencil di antara padang rumput, tetangga terdekat dari rumahnya berjarak sekitar 10 KM. Satu hal yang sangat unik dari wanita setengah baya ini adalah cara dia menjual bunganya.

Setiap sore sepulang dari sekolah dia memetik bunga kemudian mengemasnya. Bunga hasil kemasan tersebut dibawa setiap pagi ke pinggir jalan raya sekitar 400 meter dari rumahnya. Dia membuat semacam tenda kecil untuk memamerkan daganganya dilengkapi dengan plang sederhana bertuliskan “flowers”. Tidak ada seorangpun yang menjaga dagangannya, dia hanya menyimpan daftar harga dan sebuah kotak dari kaleng untuk menyimpan uang.

Trust trade yang dia lakukan selama bertahun-tahun tersebut memberikan keuntungan yang lumayan. Saya sempat kaget mendengar cerita langsung dari Mrs. Anne tentang cara dia menjual bunga, jika cara tersebut dilaksanakan di koperasi sekolah-sekolah kita, saya tidak bisa menjamin kotak penyimpanan uang akan terisi tapi yang pasti seisi koperasi habis tak terkendali.

Pelajaran Nilai

Pak Burhanuddin, kepala MAN I Medan, salah seorang peserta pernah menanyakan perihal agama kepada seorang guru di sekolah pemerintah negara bagian Victoria. Dia mendapatkan jawaban bahwa bagi mereka agama bukan suatu hal yang urgen, beragama atau tidak selama anda berbuat baik maka itu tidak masalah. Ketika dikonfirmasi kepada Ms. Brynna Rafferty, staf Asian Education Foundation yang menjadi guide selama kami di Melbourne, ternyata hal itu benar adanya. Mayoritas penduduk di Victoria tidak menganggap agama sebagai suatu hal signifikan dalam hidup mereka.

Demi Allah saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut, sebagai seorang muslim yang dari kecil dididik agama, saya selamanya akan menyatakan bahwa agama merupakan jantung kehidupan saya, sampai matipun saya akan mempertahankan agama.

Namun ada satu hal yang sangat mengusik batin saya, selama di Australia sana sampai datang kembali ke Indonesia saya masih bertanya-tanya “mengapa orang yang tidak peduli terhadap Tuhan lebih teratur hidupnya dibanding bangsa yang ber-Tuhan?”.

Saya selalu percaya bahwa manusia adalah produk pendidikan. Peradaban dibangun berdasarkan fondasi pendidikan, kemajuan dan kemakmuran bangsa juga ditopang oleh pendidikan bahkan kehancuran suatu negarapun disebabkan pendidikan yang tidak ter-urus di negara tersebut.

Bangsa Indonesia terkenal dengan bangsa yang bertuhan, hal ini tercermin dari ayat pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan yang maha esa”. Lebih hebatnya lagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sampai sekarangpun masih tercatat sebagai populasi muslim terbesar di dunia. Janji Tuhan pasti, tidak pernah ada cerita di dalam ajaran agama manapun Tuhan yang mengingkari janjinya.

Sebagai seorang muslim, kita percaya bahwa Allah akan melimpahkan anugerahNYA yang paling istimewa di dunia bagi orang-orang beriman berupa “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur”. Jika melihat realita kita masih teramat jauh dari janji Allah, pasti ada sesuatu yang salah dalam pendidikan di negara kita.

Penambahan jam pelajaran Agama

Kembali lagi ke wacana di atas, bahwa kesemrawutan yang terjadi di Indonesia karena kurangnya pelajaran Agama di sekolah-sekolah milik pemerintah dan hal ini dapat diatasi dengan penambahan jam pelajaran agama. Secara pribadi saya masih sanksi, bahkan saya merasa kurang sutuju dengan penambahan jam pelajaran agama di sekolah negeri.

Pelajaran agama sudah banyak kita terima dari penceramah di media elektronik dan yang live di masjid atau lapangan pada saat perayaan hari-hari besar. Guru ngaji di lingkungan rumah selalu mengumandangkan kalaimat-kalimat sakral, kiyai di perkampungan sering mengadakan pengajian mingguan bahkan orang tua di rumah senantiasa mengingatkan pentingnya melaksanakan ajaran agama.

Bangsa Indonesia sudah sangat terbiasa mendapatkan pelajaran agama, tapi kenyataannya pencurian merajalela, pelacuran ada di mana-mana dan korupsi sudah menjadi budaya bangsa.

Pelajaran agama memang penting tapi bila pengajar pelajaran agama tidak bisa melaksanakan nilai yang terkandung dalam pelajaran tersebut maka tidak ada guna. Penambahan pelajaran agama bisa menjadi solusi tapi jika sepulang dari rumah anak mendapatkan orang tuanya mengabaikan nilai-nilai agama maka penambahan jam pelajaran agama akan sia-sia.

Tidak ada jaminan anak menjadi baik dengan menguasai banyak pelajaran agama, contohnya banyak orientalis yang menguasai pelajaran agama Islam tapi mereka tambah jahat dan sesat. Tidak ada jaminan bangsa Indonesia mengalami suasana “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur” dengan banyaknya lahir professor-profesor ilmu agama.

Kita harus belajar dari bangsa-bangsa yang telah mempraktekan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan, meskipun mereka tidak mempedulikan keberadaaan Tuhan. Bukankan dalam Islam kita selalu diajarkan untuk bekerja keras, menghormati waktu, berbuat baik kepada sesama, menuntut ilmu dari lahir sampai liang lahat bahkan bila perlu ke negri China, bertanggung jawab terhadap diri, keluarga dan lingkungan…………………..

Sudahkah nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam di atas dan masih banyak lagi yang lainnya melekat dalam diri kita?. Jika belum maka bukan penambahan jam pelajaran agama yang harus kita gembar-gemborkan. Kita harus memaksimalkan pendidikan agama yang kita terima dengan melaksanakannya di kehidupan sehari-hari kita.

Jika bangsa tidak mempedulikan eksistensi Tuhan bisa melaksanakan nilai-nilai luhur ketuhanan mengapa kita tidak bisa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: